Poster webinar Towards AI Sovereignty

Towards AI Sovereignty: Bicara Kedaulatan AI dan Tantangan Teknologi Masa Kini

AI berkembang begitu cepat. Dalam waktu singkat, kita melihat model bahasa yang semakin pintar, teknologi suara yang semakin mirip manusia, dan berbagai aplikasi baru yang mulai masuk ke kehidupan sehari-hari.

Di tengah perkembangan itu, muncul satu pertanyaan penting: bagaimana Indonesia bisa ikut membangun, memahami, dan mengendalikan teknologi AI, bukan hanya menjadi pengguna?

Pertanyaan inilah yang menjadi benang merah webinar Towards AI Sovereignty yang diselenggarakan pada 28 Juni 2026 secara online. Acara ini menghadirkan dua pembahasan utama, yaitu masa depan inovasi Large Language Models (LLM) dan tantangan deteksi audio palsu atau fake audio.

Webinar ini menghadirkan Samuel Cahyawijaya, AI Research Scientist di Cohere dan pendiri SEACrowd, serta Dessi Puji Lestari, Ketua INACL dan dosen ITB. Diskusi dipandu oleh Lya Hulliyyatus Suadaa sebagai moderator.

Mengapa Kedaulatan AI Penting?

Dalam sesi pertama, Samuel Cahyawijaya membahas pentingnya kedaulatan AI bagi Indonesia. Menurutnya, kita tidak bisa sepenuhnya bergantung pada solusi AI dari luar negeri. Ketika sistem yang kita bangun hanya bertumpu pada model eksternal, maka kontrol operasional, keamanan, dan keberlanjutan layanan juga ikut bergantung pada pihak lain.

Kedaulatan AI menjadi penting agar Indonesia memiliki kemampuan untuk membangun dan mengelola teknologi sendiri. Jika suatu saat akses terhadap model eksternal dibatasi, sistem yang sudah berjalan tidak ikut berhenti begitu saja.

Samuel juga menyoroti bahwa riset LLM di Indonesia dan Asia Tenggara masih tertinggal dibandingkan perkembangan global. Ketika dunia sudah bergerak ke arah reasoning, penggunaan tools, multimodality, autonomous agents, hingga pemrosesan konteks yang semakin panjang, riset di kawasan ini masih banyak berfokus pada pemahaman bahasa, deployment, dan fine-tuning.

Membangun Fondasi dari Data dan Talenta

Salah satu pesan penting dari sesi ini adalah bahwa kualitas dataset menjadi fondasi utama. Untuk membangun AI yang benar-benar relevan bagi Indonesia, kita perlu memiliki data teks yang lebih rapi, representatif, dan diproses dengan baik sejak awal.

Samuel menjelaskan bahwa fine-tuning di atas model asing saja tidak cukup. Indonesia perlu mulai membangun titik pijak sendiri, termasuk dalam hal dataset, proses pelatihan, evaluasi, dan software stack yang efisien.

Melalui SEACrowd, Samuel dan timnya juga mendorong standardisasi evaluasi bahasa-bahasa Asia Tenggara. Inisiatif ini menjadi salah satu upaya untuk memastikan model AI tidak hanya terlihat baik dalam bahasa Inggris, tetapi juga mampu bekerja dengan baik pada bahasa-bahasa di kawasan kita.

Ketika Suara AI Semakin Mirip Manusia

Sesi kedua menghadirkan Dessi Puji Lestari yang membahas deteksi audio palsu. Teknologi voice cloning saat ini sudah mampu meniru warna suara, intonasi, bahkan emosi pembicara dengan sangat meyakinkan.

Kemajuan ini membawa manfaat, tetapi juga membuka risiko besar. Suara sintetis dapat disalahgunakan untuk penipuan, penyebaran hoaks, hingga rekayasa politik. Karena itu, kemampuan mendeteksi apakah sebuah suara asli atau buatan mesin menjadi semakin penting.

Dessi menjelaskan bahwa suara sintetis dapat dianalisis melalui berbagai ciri, mulai dari pola spektral, fase gelombang, pola harmonik, frekuensi tinggi, noise, hingga prosodi atau variasi intonasi dan energi. Suara AI sering kali terdengar rapi dan stabil, tetapi justru di situlah tanda-tanda tidak alaminya bisa muncul.

Riset Indonesia Punya Peran Penting

Menariknya, untuk bidang deteksi suara palsu, Indonesia tidak berada jauh di belakang. Tantangan global di bidang ini masih sangat besar karena model pendeteksi harus terus beradaptasi dengan munculnya berbagai generator suara baru.

Dalam riset yang dilakukan di ITB, pendekatan dengan fitur patologis digunakan untuk melihat suara kloningan AI seperti suara manusia yang sedang mengalami gangguan. Pendekatan ini terbukti membantu meningkatkan deteksi, terutama untuk audio berdurasi panjang.

Diskusi ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki ruang besar untuk ikut berkontribusi dalam riset AI, baik pada sisi pembangunan model bahasa maupun pada sisi keamanan dan deteksi penyalahgunaan teknologi.

Dari Diskusi Menuju Kolaborasi

Pada sesi tanya jawab, peserta juga membahas berbagai isu praktis, mulai dari cara menjalankan LLM di perangkat dengan spesifikasi terbatas, kebutuhan forensik digital untuk kasus suara palsu, hingga strategi agar Indonesia benar-benar memiliki kedaulatan AI.

Salah satu benang merah yang muncul adalah pentingnya kolaborasi. Kedaulatan AI tidak bisa dibangun hanya oleh satu institusi. Diperlukan kerja bersama antara kampus, industri, komunitas, pemerintah, dan institusi strategis yang mengelola data penting.

Webinar Towards AI Sovereignty menjadi pengingat bahwa masa depan AI bukan hanya soal teknologi yang semakin canggih, tetapi juga soal kesiapan kita untuk membangun ekosistem yang mandiri, aman, dan relevan bagi kebutuhan Indonesia.

Semoga diskusi ini menjadi awal dari semakin banyak percakapan, riset, dan kolaborasi untuk memperkuat peran Indonesia dalam pengembangan AI ke depan.

Leave a comment